MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
Pengadilan Agama Wonogiri Kelas 1B

Jl. Pemuda No. 01, Giripurwo, Wonogiri, Jawa Tengah 57612

ZONA INTEGRITAS

2025

Manajemen Perubahan
Penataan Tata Laksana
Penataan Sistem Manajemen SDM
Penguatan Akuntabilitas
Penguatan Pengawasan
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik

E-OFFICE

PENGADILAN AGAMA WONOGIRI

” Bersih, Integritas, Sinergi, Akuntabel”

Slide 1
Home / Berita / Menapak Jejak Mahkamah Islam Tinggi, Pengadilan Agama Wonogiri Refleksikan Sejarah, Kobarkan Semangat Peradilan Agama

Menapak Jejak Mahkamah Islam Tinggi, Pengadilan Agama Wonogiri Refleksikan Sejarah, Kobarkan Semangat Peradilan Agama

SURAKARTA, [29 Oktober 2025] – Pengadilan Agama Wonogiri kembali menorehkan partisipasi aktif dalam kegiatan ilmiah tingkat nasional. Kali ini, rombongan Pengadilan Agama Wonogiri yang terdiri dari segenap unsur Hakim turut hadir dalam Seminar Nasional bertajuk “Mahkamah Islam Tinggi (MIT): Pembuka Tabir Sejarah Eksistensi Peradilan Agama dalam Reformasi Hukum & Peradilan di Indonesia” yang diselenggarakan di Auditorium Mohamad Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Kamis (23/10).

Acara yang dihadiri para tokoh peradilan dan akademisi ini menjadi momentum penting untuk menggali kembali akar sejarah Peradilan Agama di Indonesia. Tidak hanya menjadi ruang refleksi akademik, seminar ini juga menghadirkan semangat kebangkitan serta mengingatkan bahwa perjalanan panjang Peradilan Agama adalah kisah perjuangan dan pengabdian yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam forum tersebut, Ketua Muda Kamar Agama Mahkamah Agung RI, Dr. Yasardin, S.H., M.Hum., dan Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama, Dr. Drs. Mukhlis, S.H., M.H., membuka kembali tabir sejarah Mahkamah Islam Tinggi (MIT) lembaga peradilan Islam yang menjadi fondasi awal terbentuknya Peradilan Agama di Indonesia. Paparan keduanya menegaskan bahwa eksistensi Peradilan Agama bukanlah hasil dari perubahan modern semata, melainkan lahir dari perjuangan panjang umat Islam dalam memperjuangkan keadilan di bumi pertiwi. Mahkamah Islam Tinggi (MIT) juga menjadi saksi sejarah bahwa hukum Islam telah hidup dan berperan jauh sebelum sistem hukum nasional terbentuk.

Salah satu pesan penting yang menggema sepanjang kegiatan adalah tentang makna peran seorang hakim, di mana Hakim tidak sekadar menjadi pelaksana hukum, tetapi juga “mujtahid” yaitu sosok yang terus belajar, menggali ilmu, dan berani berijtihaduntuk menemukan keadilan yang sejati. Pesan itu disampaikan oleh Ketua Muda Kamar Agama Mahkamah Agung RI, Dr. Yasardin, S.H., M.Hum., yang mengutip pendapat dari Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., S.I.P., M.Hum., (Ketua Kamar Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia periode 2014-2017), yang menegaskan bahwa seorang hakim yang berijtihaddengan sungguh-sungguh, meskipun keliru, tetap mendapat pahala atas usahanya. Hal ini menunjukkan bahwa tugas hakim bukan hanya intelektual, tetapi juga spiritual, sebuah panggilan jiwa untuk menghadirkan keadilan yang berlandaskan nilai-nilai ilahiah.

Lebih dari itu, hakim juga disebut sebagai “pejuang”, pejuang hukum Islam yang berjuang di garis depan demi terwujudnya kemaslahatan umat. Peradilan Agama kini telah berkembang pesat, termasuk dengan perluasan yurisdiksi hingga menangani perkara ekonomi syariah, sebagai bukti nyata hasil perjuangan panjang para pendahulu.

Ketua Pengadilan Agama Wonogiri, Nur Hamid, S.Ag., M.H., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya seminar ini memberikan perspektif baru sekaligus memperkuat komitmen para hakim dan aparatur peradilan dalam menjalankan tugas dengan penuh dedikasi.

“Kegiatan ini benar-benar mengingatkan kita akan akar perjuangan Peradilan Agama. Tugas kita di balik meja hijau bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari estafet perjuangan panjang para pendahulu. Kita harus terus menjadi “mujtahid” yang berpikir dan “pejuang” yang berani menegakkan keadilan,” ujarnya.

Di samping itu, Dr. H. Alfajar Nugraha, S.H.I., M.H., salah satu hakim Pengadilan Agama Wonogiri yang turut hadir juga menuturkan bahwa kegiatan seminar nasional tersebut menumbuhkan semangat baru untuk terus berbenah dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Seminar nasional ini menyadarkan kita bahwasanya Pengadilan Agama mempunyai andil dalam kemerdekaan yang harus tidak kita lupakan dan kami pulang dengan membawa semangat untuk memperkuat integritas, profesionalisme, dan pengabdian. Sejarah ini harus terus hidup dalam setiap langkah pelayanan di Pengadilan Agama Wonogiri,” ungkapnya.

Melalui kegiatan seminar nasional ini, Pengadilan Agama Wonogiri meneguhkan kembali komitmen untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan dan semangat ijtihad sebagai landasan dalam menjalankan tugas peradilan. Bahwa di balik setiap putusan dan pelayanan, tersimpan niat tulus untuk menghadirkan keadilan yang membawa kemaslahatan bagi umat. Seminar nasional di Universitas Muhammadiyah Surakarta ini tidak hanya membuka tabir sejarah, tetapi juga menyalakan api semangat baru, semangat untuk terus berkarya, berjuang, dan menjaga marwah Peradilan Agama sebagai benteng keadilan di negeri ini. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa Peradilan Agama tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari akar perjuangan yang panjang, dipupuk oleh keikhlasan, dan disiram oleh semangat pengabdian. Kini, estafet perjuangan itu diteruskan oleh para hakim dan aparatur di seluruh Indonesia, termasuk di Pengadilan Agama Wonogiri.

(MZR)

STATISTIK
Maklumat PPID
Status Layanan

berita terbaru dari

We use cookies to personalise content and ads, to provide social media features and to analyse our traffic. We also share information about your use of our site with our social media, advertising and analytics partners. View more
Cookies settings
Accept
Privacy & Cookie policy
Privacy & Cookies policy
Cookie name Active
Save settings
Cookies settings